quotes

WELCOME TO MADELINE JESSICA BLOG
Learn from yesterday, Live for today, Hope for tomorrow :)

Jumat, 29 Mei 2015

Collective Behavior and Social Movements

1. Collective Behavior
Gambar 1. Perilaku kolektif mahasiswa pada saat kerusuhan tahun 1998. Mereka melakukan demonstrasi secara besar-besaran ke gedung DPR, hal ini mereka lakukan secara spontan atas dasar penyaluran rasa kebebasan selama orde baru. Namun, dengan adanya moment tersebut munculah orde reformasi di Indonesia.


1.1 Definisi Perilaku Kolektif
Perilaku kolektif adalah Perilaku yang relatif spontan dan tidak terstruktur dari sekelompok orang yang bereaksi terhadap pengaruh umum dalam situasi yang ambigu. Sosiolog menentukan perilaku kolektif sebagai perilaku yang relatif spontan dan sementara yang melibatkan sejumlah besar orang terlibat dalam kegiatan yang melanggar norma-norma konvensional.

1.2 Theories of Collective Behavior

1.2.1Convergence Theories
Inti dari teori ini adalah bahwa orang bertindak terutama didasarkan pada kecenderungan individu. Kecenderungan tersebut membuat mereka mencari berpikiran kolektivitas. Kolektivitas tersebut dengan demikian akan terdiri dari individu-hati, dengan kecenderungan bersama untuk bentuk perilaku tertentu.

1.2.2 Social Contagion Theory
Kenyataan menjadi bagian dari kerumunan memodifikasi perilaku individu dan, dalam arti, membuat mereka untuk sementara, jika tidak waras setidaknya irasional dan bahwa perilaku tersebut akan hilang ketika mereka meninggalkan kerumunan. 

1.2.3 Emergent Norm Theory (Ralph Turner dan Lewis Killiam (1957) )
Mengembangkan teori muncul norma perilaku kolektif, di mana mereka mendukung beberapa aspek teori penularan sosial, tapi menolak premis dasar: individu dalam kerumunan menjadi tidak rasional dan gila. Mereka mengganti premis ini dengan mereka sendiri: aktor sosial adalah norma-makhluk berikut; sebagai hasilnya, jika perilaku konformis adalah produk dari norma-norma konvensional, maka perilaku kolektif adalah produk dari norma-norma yang muncul.
Berdasarkan teori ini, individu tentunya tidak menjadi gila sekali di tengah orang banyak. Mereka berperilaku berbeda karena norma-norma yang berbeda, namun mereka masih mengikuti norma-norma. Dalam hal ini, perilaku kolektif adalah produk dari kesesuaian, bukan penyimpangan, meskipun hasilnya mungkin muncul menyimpang.

1.2.4 Value-Added or Structural-Strain Theory (Neil Smelser (1963))
Memfokuskan analisisnya pada faktor-faktor sosial-struktural skala besar yang mengarah ke perilaku kolektif. Untuk Smelser, psikologis make-up dari para peserta untuk perilaku kolektif tidak relevan; faktor-faktor penentu yang benar-benar bersifat sosial-struktural.

1.3 Types of Collective Behavior

1.3.1 Localized Collectivities – Crowds 
Kolektivitas yang beranggotakan berdekatan secara fisik. Lebih khusus lagi, kerumunan adalah pertemuan sementara di mana orang-orang dalam satu disekitar lain sehingga mereka mempengaruhi perilaku masing-masing dan berbagi fokus umum dari perhatian.
Herbert Blumer (1969) membedakan berbagai jenis tipe:
  1. Casual crowds  terjadi ketika orang-orang berkumpul di tempat yang sama pada waktu yang sama dengan interaksi terbatas sehingga norma-norma baru cenderung muncul dan peran relatif dibeda-bedakan. Orang-orang menonton artis jalanan atau belanja di mal adalah contoh yang baik dari kerumunan kasual.
  2. Conventional crowds  terjadi ketika peristiwa tertentu direncanakan dan sejumlah besar orang yang dijadwalkan hadir. Oleh karena itu ada lebih banyak interaksi, norma-norma tertentu, dan diferensiasi peran daripada di banyak santai. Contoh kerumunan konvensional parade, pemakaman, acara olahraga atau upacara wisuda.
  3. Expressive crowds  terjadi ketika sejumlah besar orang berkumpul untuk tujuan khusus mengalami emosi yang kuat. Menunjukkan kebangkitan agama, perayaan Mardi Gras atau pemakaman selebriti adalah contoh dari orang banyak tersebut.
  4. Acting crowds  terjadi ketika kolektivitas adalah sangat terfokus dan kemarahan adalah emosi yang dominan. Kerumunan tersebut cenderung merusak dan kekerasan. Massa dan kerusuhan adalah contoh bertindak banyak.
1.4 Istilah dalam Collective Behavior:
  • Mobs: Massa sangat emosional dan kekerasan massa yang menargetkan individu atau kategori individu tertentu. Kekerasan massa biasanya dimotivasi oleh rasa takut, atau marah.
  • Riots: Kerusuhan adalah bentuk kekerasan perilaku kerumunan. Namun, bertentangan dengan massa, tidak fokus pada target tertentu tetapi tidak diarahkan. Kerusuhan lebih mungkin untuk menyebabkan kerusakan properti daripada massa.
  • Panic: Panik adalah tindakan kelompok yang spontan dan tidak terkoordinasi untuk melarikan diri dari beberapa ancaman. 
  • Rumors: Sebuah rumor adalah informasi yang tidak berdasar berlalu informal dari individu ke individu tanpa verifikasi.
  • Gossips: Gosip adalah rumor tentang individu-individu tertentu dan kehidupan pribadi mereka. Mereka dapat digunakan sebagai bentuk kontrol sosial: memuji atau mempermalukan orang-orang tertentu memperkuat kesesuaian dengan norma-norma kelompok tertentu. 
Gambar 2. Gosip atau fakta? Terompet Sangkakala Tanda Kiamat Makin Dekat Atau Fenomena Alam. Issue yang berkembang di masyarakat saat ini semakin membingungkan antara rekayasa teknologi atau kenyataan.
  • Fads: Fads adalah Mode sangat terkait dengan budaya barat konsumsi massa dan mereka semua melibatkan pembelian besar benda-benda yang tidak berguna atau produk yang kehilangan nilai apapun secepat mode selesai.
  • Crazes: Kegilaan mirip dengan fads bahwa mereka melibatkan konsumsi besar-besaran dan cepat dan berakhir tiba-tiba. Namun, dalam menggila, keuntungan adalah motif utama.
Gambar 3. "Indonesia sudah kembali ke zaman batu" begitulah yang tergambar saat melihat kerumunan orang dengan fenomena fads/crazes. Mereka tergila-gila dengan batu mulia atau batu akik ini bahkan rela mengeluarkan nominal yang irasional hanya untuk membeli batu. 
  • Fashion: Fashion adalah mode yang mengacu pada gaya penampilan, pemikiran atau perilaku senilai suatu titik waktu tertentu dalam masyarakat dan diikuti oleh banyak orang. Jika mode tampaknya muncul entah dari mana, tren fashion muncul di kelas atas karena melibatkan konsumsi mewah.
Gambar 4. Jakarta Fashion Week, sebagai kiblat fashion di Indonesia. Penampilan dan tren dari perancang busana terkenal, fashion look menjadi suatu keharusan di kalangan menengah atas.

  • Public Opinion: Opini publik meliputi gagasan luas, sikap dan keyakinan dikomunikasikan kepada para pengambil keputusan melalui jajak pendapat dan survei untuk diperhitungkan dalam keputusan politik.
  • Propaganda: Propaganda adalah informasi yang dirancang untuk secara aktif membentuk dan mempengaruhi opini publik.
2. Social Movements
Gambar 5. Mahasiswa berpantonim sebagai wujud aksi nyata menolak korupsi yang sudah turun-temurun terjadi di Indonesia. Gerakan yang dilakukan masyarakat untuk mendorong perubahan dalam pemerintahan yang Anti-Korupsi.
2.1 Definisi Gerakan Sosial
Aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal yang berbentuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial.

2.2 Theories of Social Movements

2.2.1 Relative Deprivation Theory (Denton Morrison (1971) ) 
Teori yang lebih umum tentang mengapa individu bergabung gerakan sosial. Seseorang mengalami deprivasi relatif ketika dia merasa bahwa dia tidak menerima nya "adil" dari apa yang tampaknya menjadi tersedia.

Kunci untuk ide deprivasi relatif:

  • gagasan tentang harapan, yaitu, apa yang orang pikir mereka pantas dan inginkan dalam hidup.
  • gagasan tentang harapan yang sah. 
  • gagasan dari harapan diblokir, tujuan-tujuan bahwa individu tidak dapat memenuhi melalui cara konvensional.

2.2.2 Resource Mobilization Theory
Oberschall: untuk mempertahankan sebuah gerakan sosial, harus ada organisasi dasar dan kontinuitas kepemimpinan.
Marx: pemimpin perlu membantu para pekerja mengatasi kesadaran palsu - sikap yang tidak mencerminkan posisi obyektif pekerja.

2.2.3 Political Process Theory
Teori proses politik berfokus lebih pada isu-isu makro-sosiologis yang membuat gerakan sosial mungkin.
  1. Kekuatan Organisasi: semakin terorganisir kelompok adalah, semakin besar kemungkinan anggotanya untuk membentuk gerakan sosial dan semakin besar kemungkinan gerakan akan berhasil;
  2. Pembebasan Kognitif: semakin banyak anggota berpikir peluang sukses mereka baik, semakin besar kemungkinan mereka untuk membuat gerakan mereka akan berhasil;
  3. Peluang politik: sekutu politik lebih utama gerakan sosial telah, semakin besar kemungkinan akan berhasil.

2.2.4 New Social Movements Theory
Gerakan sosial baru itu sendiri adalah respon terhadap perubahan sosial besar-besaran yang dibawa oleh globalisasi.
Gerakan sosial baru: kegiatan kolektif terorganisir yang mempromosikan otonomi, penentuan nasib sendiri, dan peningkatan kualitas hidup.


Refrensi:
  1. Gerakan Sosial (diunduh tanggal 30-05-2015) disarikan dari http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_sosial
  2. Herbert G. Blumer, (1969). "Collective Behavior." In Alfred McClung Lee, ed., Principles of Sociology. Third Edition.(pp. 65–121.) New York: Barnes & Noble Books.
  3. Hooguelt, Ankle MM, (1995) Sosiologi Sedang Berkembang, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  4. Locher, David A.,(2002) Collective Behavior, Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.
  5. Neil J. Smelser. (1962). Theory of Collective Behavior. New York: Free Press. ISBN 0-02-929390-1
  6. Schaefer, Richard.  (2012).  Sociology.  (Chapter 21) 13th Edition.  MGHE.  New York.   ISBN: 0078026660. 
  7. Slide Binus Maya Pertemuan ke-37 diunduh 30-05-2015 Collective Behavior and Social Movements http://binusmaya.binus.ac.id/AccessApp.aspx?AppId=ankN224zkCGlL6Prt9ts4Qkw%2bx4hUYN0ZtPgD4FezY4%3

Collonialism and Development, Cultural Exchange and Survival

1. Collonialism
Gambar1. Markas VOC (Verenigde Oostindische Compagnie) dibawah pimpinan Jan Pieterzoon Coen, menjadi salah satu "saksi bisu" dalam penjajahan yang dilakukan negara kincir angin.


1.1 Kolonialisme
Kolonialisme adalah pengembangan kekuasaan sebuah negara atas wilayah dan manusia di luar batas negaranya, seringkali untuk mencari dominasi ekonomi dari sumber daya, tenaga kerja, dan pasar wilayah tersebut. Istilah ini juga menunjuk kepada suatu himpunan keyakinan yang digunakan untuk melegitimasikan atau mempromosikan sistem ini, terutama kepercayaan bahwa moral dari pengkoloni lebih hebat ketimbang yang dikolonikan.
Pendukung dari kolonialisme berpendapat bahwa hukum kolonial menguntungkan negara yang dikolonikan dengan mengembangkan infrastruktur ekonomi dan politik yang dibutuhkan untuk pemodernisasian dan demokrasi.

1.2 Impersialism
Imperialisme mengacu pada kebijakan memperluas kekuasaan suatu bangsa atau kerajaan atas bangsa-bangsa asing lalu mengambil dan menahan koloni asing. Kolonialisme mengacu pada dominasi politik, sosial, ekonomi, dan budaya suatu wilayah dan rakyatnya oleh kekuasaan asing untuk jangka waktu. Kolonialisme modern dimulai dengan Age of Discovery di mana negara-negara Eropa mendirikan koloni di selurh dunia baru.

1.3 Collonialism and Identity
Perbedaan etnis dan politik di seluruh dunia sangat terganggu oleh kolonialisme. Sebagai contoh, banyak dari batas-batas politik modern di Afrika Barat didasarkan pada linguistic, politik, dan ekonomi kontras yang merupakan hasil dari kebijakan kolonial Eropa di wilayah tersebut.

1.4 Postcolonial Studies
Kajian postcolonial mengacu pada penelitian yang menargetkan interaksi antara negara-negara Eropa dan masyarakat yang mereka jajah. Istilah ini juga digunakan untuk merujuk pada paruh kedua abd ke-20 dan dapat juga digunakan untuk menandakan posisi melawan imperialism dan Eurosentrisme.

2. Development
Gambar 2. Perkembangan ekonomi yang terjadi di Indonesia terjadi karena "Revolusi Hijau" pada masa orde baru. Hal ini membuat petani bersmangat untuk mencapai swasembada beras.

2.1 Development : Philosophy
Sebuah filosofi intervensi adalah pembenaran ideologis untuk campur tangan dalam kehidupan penduduk asli, didasarkan pada asumsi bahwa seseorang memiliki cara yang unggul hidup atau berpikir.

2.2 Development : Problems
  1. Situasi dianggap sebagai masalah yang dihasilkan dari gaya hidup pribumi mungkin sebenarnya akibat dari dampak sistem dunia pada gaya hidup itu. 
  2. Efek sistemik proyek pembangunan sebenarnya bisa berbahaya (misalnya, pajak, dan kenaikan sewa dalam menanggapi mengangkat pendapatan). 
  3. Ahli difokuskan secara sempit tidak mungkin untuk menyadari implikasi spektrum yang luas dari skema pembangunan.
2.3 Strategies for Innovation
Kottak menggambarkan analisis komparatif tentang enam puluh delapan proyek pembangunan, dimana ia menetapkan bahwa proyek-proyek pembangunan ekonomi yang sesuai budaya dua kali sukses financial yang tidak kompatibel.

2.3.1 Overinnovation
Overinnovation mengacu pada proyek-proyek pembangunan membutuhkan perubahan besar atas nama masyarakat sasaran. Proyek-proyek yang bersalah overinnovation umumnya tidak berhasil. Untuk menghindari overinnovation, proyek-proyek pembangunan harus peka terhadap budaya tradisional dan keprihatinan dari kehidupan sehari-hari di masyarakat sasaran.

2.3.2 Underdifferentiation
Underdifferentiation adalah kecenderungan untuk mengabaikan keragaman budaya dan melihat negara-negara berkembang secara sama. Banyak proyek pembangunan salah menganggap bahwa keluarga inti adalah unit dasar produksi dan lahan kepemilikan. Banyak proyek pembangunan juga salah menganggap bahwa koperasi berdasarkan model dari bekas blok Timur akan mudah dimasukkan oleh masyarakat pedesaan.

2.3.3 Third World Models
Model terbaik untuk pembangunan ekonomi yang dapat ditemukan di masyarakat sasaran. Pengembangan realistis mempromosikan perubahan bukan overinnovation dengan menjaga sistem lokal sementara yang membuat mereka bekerja menjadi lebih baik. Contoh Malagasi menunjukkan perhatian dibayar untuk bentuk-bentuk lokal sosial (organisasi keturunan) dan kondisi lingkungan (misalnya, mengambil ternak dari strain disesuaikan dengan lingkungan yang sama).


3. Cultural Exchange and Survival
Gambar 3. Gamelan Jawa banyak dipelajari warga asing. Tak sedikit yang rela pulang-pergi ke Jawa untuk belajar dan mendalami salah satu produk budaya bangsa ini. Daya juang dan ketekunan mereka patut jadi teladan.

3.1 Contact and Domination
Peningkatan kontak antara budaya telah menciptakan kemungkinan meningkat untuk dominasi satu kelompok dengan yang lain melalui berbagai cara.

3.2 Variation In Systems of Domination
Scott (1990) membedakan antara transkrip public dan tersembunyi dari masyarakat budaya dan politik tertindas. Transkrip public mengacu pada terbuka interaksi public antara dominasi dan tertindas. Gramsci (1971) gagasan hegemoni berlaku untuk sistem politik hirarkis dimana dalam ideologi dominan dari elite telah diinternalisasikan oleh anggota kelas bawah. Bourdieu (1977) dan Foucault (1979) berpendapat bahwa itu jauh lebih mudah untuk mengontrol pikiran orang daripada mencoba untuk mengendalikan tubuh mereka.

3.3 Weapons of the Weak
James Scott (1990) bekerja pada petani Melayu menunjukkan kelompok tertindas dapat menggunakan metode non-konfrontatif untuk melawan berbagai bentuk dominasi, Contoh wacana antihegemonic meliputi ritual (misalnya, carnaval) dan sastra rakyat. Resistance adalah posisi sebuah sikap dimana untuk berperilaku bertahan, berusaha melawan, dan menentang.

3.4 Cultural Imperialism
Imperialisme mengacu pada penyebaran satu budaya dengan mengorbankan orang lain  biasanya karena pengaruh ekonomi atau politik diferensial. Negara Barat mendominasi media di seluruh dunia ini.Ini berarti pula, media masa negara Barat juga mendominasi media di Dunia Ketiga.

3.5 Making and Remaking Culture
Sebuah teks didefinisikan sebagai sesuatu yang kreatif membaca, diinterpretasikan, dan ditugaskan makna oleh setiap orang yang menerimanya. Pembaca teks semua berasal makna dan perasaan yang mungkin berbeda dari apa yang pencipta teks dimaksudkan mereka sendiri. Pembacaan hegemonik mengacu pada membaca atau makna bahwa pencipta teks dimaksudkan.

3.6 Popular Culture
Menurut Fiske (1989), penggunaan masing-masing individu dari budaya populer adalah tindakan kreatif. Budaya populer dapat digunakan untuk mengekspresikan perlawanan.

3.7 Indigenezing Popular Culture
Bentuk-bentuk budaya diekspor dari satu budaya ke yang lain tidak selalu membawa arti yang sama dari bekas konteks ke konteks yang terakhir. Interpretasi Aborigin film, Rambo, menunjukkan bahwa makna dapat dihasilkan dari teks, bukan dengan teks. Analisis Appadurai tentang pribumisasi Filipina dari beberapa bentuk musik Amerika menunjukkan keunikan dari bentuk indigenized.

3.8 A World System of Images
Media massa dapat menyebar dan menciptakan identitas nasional dan etnis. Studi lintas budaya menunjukkan bahwa diproduksi secara lokal acara televisi yang lebih suka impor dari luar negeri. Media massa memainkan peran penting dalam mempertahankan identitas etnis dan nasional di kalangan orang-orang yang menjalani kehidupan transnasional.

3.9 Transnational Culture
Seperti media massa, arus modal telah menjadi desentralisasi, membawa dengan itu pengaruh budaya dari berbagai sumber (misalnya, Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Kanada, Jerman, Belanda). Buruh migran juga berkontribusi terhadap difusi budaya.

3.10 Postmoderenism
Postmodernitas menjelaskan waktu dan situasi-hari ini dunia dalam fluks, orang-orang ini pada langkah yang telah belajar untuk mengelola beberapa identitas tergantung pada tempat dan konteks. Postmodern merujuk runtuh pembedaan tua, aturan, kanon, dan sejenisnya. Postmodernisme (berasal dari gaya arsitektur) mengacu pernyataan teoritis dan penerimaan berbagai bentuk kebenaran, bertentangan dengan modernisme, yang berbasis di supremasi diasumsikan teknologi Barat dan nilai-nilai. Globalisasi mengacu pada meningkatnya keterhubungan dunia dan rakyatnya. Dengan keterhubungan ini, bagaimanapun, datang basis baru untuk identitas (misalnya, identitas Panindian tumbuh di antara suku-suku yang berbeda sebelumnya).

Refrensi:
  1. Kolonialisme (diunduh tanggal 30-05-2015) disarikan dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kolonialisme
  2. Kottak, Conrad Phillip . (2013).  Cultural Anthropology: Appreciating Cultural Diversity.(Chapter 14)  15th Edition.  MGHE.  .   ISBN: 0078035007.
  3. Slide Binus Maya Pertemuan ke-35 diunduh 30-05-2015 ollonialism and Development, Cultural Exchange and Survival http://binusmaya.binus.ac.id/AccessApp.aspx?AppId=ankN224zkCGlL6Prt9ts4Qkw%2bx4hUYN0ZtPgD4FezY4%3d

Telur dan Perjalanan Hidup

“Jika  telur pecah karena faktor dari luar, maka kehidupan berakhir. Tetapi,jika telur pecah karena energi dari dalam, maka kehidupan dimulai”.


"Menarik dan ajaib" kata yang pas untuk menggambarkan kuliah ini, bagaimana bisa sebuah telur menggambarkan suatu perjalanan? itu yang ada dalam benak saya saat melakukan kuliah ini. Menjatuhkan telur dari ketinggian menentukan nasib seseorang, lalu bagaimana kalau saja telur itu retak atau pecah? tentu saja "khawatir" menyelimuti perasaanku saat itu. Jika sudah begitu hanya ada satu kunci yaitu "percaya". Kepercayaan dan keyakinan kita tanamkan pada telur tersebut dengan doa dan harapan.
Jika telur itu retak atau pecah maka mungkin doa belum dikabulkan. Namun itu sejalan seperti perjalanan hidup yang tidak selalu mulus, pasti ada satu titik dimana akan retak dan rapuh. Tapi semuanya bisa direkatkan kembali walaupun tidak akan kembali seperti semula secara sempurna. Dalam renungan saya berfikir hanya keluarga dan Tuhan yang mampu merekatkannya kembali.

Filosofi Telur:
Jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari luar, maka kehidupan didalam telur akan berakhir. Akan tetapi, Jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari dalam, maka kehidupan baru telah lahir. Demikian juga dengan kita. Ingatlah bahwa hal-hal besar selalu dimulai dari dalam diri kita.

Hidup adalah Anugerah, Terimalah.
Hidup adalah Tugas, Selesaikanlah.
Hidup adalah cita-cita, Capailah.
Hidup adalah Misteri, Singkapkanlah.
Hidup adalah Kesempatan, Ambillah.
Hidup adalah Janji, Penuhilah.
Hidup itu Indah, Bersyukurlah.
Hidup itu Tekateki, Pecahkanlah.
Hidup itu sebuah permainan, mainkanlah.
Hidup itu sebuah tantangan, selesaikanlah.
Hidup itu sebuah mimpi, sadarilah.
Hidup itu sebuah pengorbanan, persembahkanlah.
Hidup itu Kasih, Nikmatilah.
Satu hal yang membuat kita bahagia adalah cinta -cita.
Satu hal yang membuat kita tambah dewasa adalah masalah.
Satu hal yang membuat kita hancur adalah putus asa. Satu hal yang membuat kita maju adalah usaha. Satu hal yang membuat kita kuat adalah “DOA”

Minggu, 24 Mei 2015

Globalization, Technology, Mass Media, and Social Change

1. Globalization
Gambar 1. Globalisasi memberikan dampak negatif dalam aspek sosial-budaya di Indonesia. Issue yang paling menonjol saat ini seperti peniruan perilaku budaya barat terutama dikalangan remaja, salah satu contohnya adalah perilaku hedonisme.

1.1 Pengertian:
Globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Kemajuan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan telegraf dan Internet, merupakan faktor utama dalam globalisasi yang semakin mendorong saling ketergantungan (interdependensi) aktivitas ekonomi dan budaya.
1.2 Etimologi:
Istilah globalisasi diambil dari kata globalize yang mengacu pada kemunculan jaringan sistem sosial dan ekonomi berskala internasional.
1.3 Definisi dari Tokoh:
Sosiolog Martin Albrow dan Elizabeth King mendefinisikan globalisasi sebagai:
"...semua proses yang menyatukan penduduk dunia menjadi satu masyarakat dunia yang tunggal."

Jan Aart Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:
  1. Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
  2. Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
  3. Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
  4. Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
  5. Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.
1.4 Dampak Positif- Negatif Globalisasi
Dampak Positif Globalisasi
  1. Meningkatkan etos kerja yang tinggi, suka bekerja keras, disiplin, mempunyai jiwa kemandirian, rasional, sportif, dan lain sebagainya.
  2. Kemajuan teknologi menyebabkan kehidupan sosial ekonomi lebih produktif, efektif, dan efisien sehingga membuat produksi dalam negeri mampu bersaing di pasar internasional.
  3. Tingkat Kehidupan yang lebih Baik. 
  4. Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik. 
  5. Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri. 
  6. Kemajuan di bidang teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi yang memudahkan kehidupan manusia. 
  7. Cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi). 
  8. Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan. 
  9. Berkembangnya turisme dan pariwisata. 
  10. Meningkatkan pembangunan negara.

Dampak Negatif Globalisasi : 
  1. Semakin mudahnya nilai-nilai barat masuk ke Indonesia baik melalui internet, media televisi, maupun media cetak yang banyak ditiru oleh masyarakat.
  2. Semakin lunturnya semangat gotong-royong, solidaritas, kepedulian, dan kesetiakawanan sosial sehingga dalam keadaan tertentu/ darurat, misalnya sakit,kecelakaan, atau musibah hanya ditangani oleh segelintir orang. 
  3. Maraknya penyelundupan barang ke Indonesia. 
  4. Perusahaan dalam negeri lebih tertarik bermitra dengan perusahaan dari luar, Akibatnya kondisi industri dalam negeri sulit berkembang. 
  5. Terjadi kerusakan lingkungan dan polusi limbah industri. 
  6. Menghambat pertumbuhan sektor industri. 
  7. Terjadinya sikap mementingkan diri sendiri (individualisme) 
  8. Adanya sikap sekularisme yang lebih mementingkan kehidupan duniawi dan mengabaikan nilai-nilai agama. 
  9. Timbulnya sikap bergaya hidup mewah dan boros karena status seseorang di dalam masyarakat diukur berdasarkan kekayaannya. 
  10. Mudah terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan suatu negara

2. Technology

Gambar 2. Mobil "Esemka Rajawali" yang menjadi primadona di kota Solo. Pelajar Indonesia khususnya SMK di Surakarta berhasil menemukan trobosan baru dalam teknologi dengan membuat mobil. Rencana nya mobil ini akan dikembangkan agar bisa menjadi mobil nasional.

2.1 Pengertian:
Teknologi adalah informasi mengenai bagaimana cara menggunakan sumber daya material dari lingkungan untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan manusia.

2.2 Klasifikasi dasar dari kemajuan teknologi yaitu:
  1. Kemajuan teknologi yang bersifat netral (neutral technological progress) terjadi bila tingkat pengeluaran (output) lebih tinggi dicapai dengan kuantitas dan kombinasi faktor-faktor pemasukan (input) yang sama.
  2. Kemajuan teknologi yang hemat tenaga kerja (labor-saving technological progress) kemajuan teknologi yang terjadi sejak akhir abad kesembilan belas banyak ditandai oleh meningkatnya secara cepat teknologi yang hemat tenaga kerja dalam memproduksi sesuatu mulai dari kacang-kacangan sampai sepeda hingga jembatan.
  3. Kemajuan teknologi yang hemat modal (capital-saving technological progress) fenomena yang relatif langka. Hal ini terutama disebabkan karena hampir semua riset teknologi, dan ilmu pengetahuan di dunia dilakukan di negara-negara maju, yang lebih ditujukan untuk menghemat tenaga kerja, bukan modalnya.
3. Mass Media
Gambar 3. Media massa di era reformasi saat ini sudah dapat dikatakan mulai kehilangan tingkat obyektifitasnya. Hal ini dilihat dari perbedaan hasil hitung cepat /quick count  pada pilpres 2014. Masyarakat Indonesia dibuat bingung oleh pemberitaan informasi yang berbeda-beda di seluruh media massa.

3.1 Media Massa : Sociological Perspectives Of The Media

Functionalist View : 
Media :
  • Mensosialisasikan kita
  • Menegakkan norma-norma sosial
  • Memberi status
  • Meningkatkan konsumsi
  • Mempertahankan kita mengenai informasi lingkungan kita
  • Dapat berperan sebagai narkoba (efek kecanduan)
Agen Sosialisasi :  
  • Media meningkatkan kohesi sosial dengan menyajikan pandangan umum budaya 
  • Memberikan pengalaman kolektif bagi anggota masyarakat
  • Efek Sosialisasi dapat meningkatkan pertukaran agama serta patriotik, menyatukan orang-orang beriman di dunia.
  • Efek sosial pada media berarti pemograman dapat dengan mudah menjadi kontroversial 
Penegak Norma Sosial :
Media menegaskan perilaku yang tepat dengan menunjukkan apa yang terjadi pada orang-orang yang melanggar harapan masyarakat

3.2 Jenis Media Masa
  • Media massa tradisional
Media massa tradisional adalah media massa dengan otoritas dan memiliki organisasi yang jelas sebagai media massa. Secara tradisional media massa digolongkan sebagai berikut: surat kabar, majalah, radio, televisi, film (layar lebar). Dalam jenis media ini terdapat ciri-ciri seperti:
  1. Informasi dari lingkungan diseleksi, diterjemahkan dan didistribusikan
  2. Media massa menjadi perantara dan mengirim informasinya melalui saluran tertentu.
  3. Penerima pesan tidak pasif dan merupakan bagian dari masyarakat dan menyeleksi informasi yang mereka terima.
  4. Interaksi antara sumber berita dan penerima sedikit.
  • Media massa modern
Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan teknologi dan sosial budaya, telah berkembang media-media lain yang kemudian dikelompokkan ke dalam media massa seperti internet dan telepon selular. Dalam jenis media ini terdapat ciri-ciri seperti:
  1. Sumber dapat mentransmisikan pesannya kepada banyak penerima (melalui SMS atau internet misalnya)
  2. Isi pesan tidak hanya disediakan oleh lembaga atau organisasi namun juga oleh individual
  3. Tidak ada perantara, interaksi terjadi pada individu
  4. Komunikasi mengalir (berlangsung) ke dalam
  5. Penerima yang menentukan waktu interaksi
4. Social Change
Gambar 4. Sikap INDIVIDUALISME saat antrian Commuter-line. Budaya antri mungkin sudah tidak seperti dulu.,semua orang terlihat sibuk untuk urusan pribadiya sampai ada yang menyelak antrian. Tak hanya pada saat antri tiket namun pada saat ingin naik kereta harus berebut masuk. Bahkan saat masuk di kereta banyak yang menempati bangku prioritas yang dikhususkan untuk lansia, ibu hamil, dan disabilitas.

4.1 Pengertian:
Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai, sikap-sikap sosial, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

4.2. Definisi menurut 5 Tokoh:
  • Gillin : Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi sebagai suatu variasi dari cara hidup yang telah diterima karena adanya perubahan kondisi geografi, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi, maupun adanya difusi atau penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.
  • Emile Durkheim  : Perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari faktor-faktor ekologis dan demografis, yang mengubah kehidupan masyarakat dari kondisi tradisional yang diikat solidaritas mekanistik, ke dalam kondisi masyarakat modern yang diikat oleh solidaritas organistik.
  • Kingsley Davis : Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
  • Mac Iver : Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan sosial (social relation) atau perubahan terhadap keseimbangan (ekuilibrium) hubungan sosial
  • William F. Ogburn : Perubahan sosial adalah perubahan yang mencakup unsur-unsur kebudayaan baik material maupun immaterial yang menekankan adanya pengaruh besar dari unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial
4.3 Teori Social Change:

4.3.1. Evolutionary Theory
Memandang masyarakat seperti bergerak dalam arah tertentu, umumnya maju ke tingkat yang lebih tinggi. 
  • Comte melihat masyarakat sebagai bergerak maju dalam pemikiran mereka dari mitologi ke metode ilmiah.
  • Durkheim mempertahankan proses masyarakat dari sederhana ke bentuk organisasi sosial yang lebih kompleks.
4.2.2. Functionalist Theory
Fokus pada apa yang mempertahankan sebuah sistem, bukan apa yang merubah sistem. Equilibrium model : Ketika perubahan terjadi pada salah satu bagian dari masyarakat, harus ada penyesuaian pada bagian lain. Jika penyesuaian tidak dilakukan, keseimbangan masyarakat akan terancam. Berikut adalah 4 proses perubahan sosial menurut Parson :
  1. Differentiation
  2. Adaptive upgrading
  3. Inclusion
  4. Value generalization

4.2.3. Conflict Theory
Perubahan diperlukan untuk memperbaiki ketidakadilan dan ketidakseimbangan sosial. Marx berargumen bahwa dengan evolusi sosial, setiap tahapan bukanlah sebuah perbaikan yang tidak terhindarkan atas perbaikan sebelumnya.

Refrensi:
  1. Albrow, Martin and Elizabeth King (eds.) (1990). Globalization, Knowledge and Society London: Sage. ISBN 978-0803983243
  2. Globalisasi (diunduh tanggal 25-05-2015) disarikan dari http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi
  3. Hooguelt, Ankle MM, (1995) Sosiologi Sedang Berkembang, Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hlm. 56
  4. Kottak, Conrad Phillip . (2013).  Cultural Anthropology: Appreciating Cultural Diversity.  15th Edition.  MGHE.  .   ISBN: 0078035007.
  5. Media Massa (diunduh tanggal 25-05-2015) disarikan dari http://id.wikipedia.org/wiki/Media_massa
  6. Perubahan Sosial (diunduh tanggal 25-05-2015) disarikan dari http://id.wikipedia.org/wiki/Perubahan_sosial
  7. Schaefer, Richard.  (2012).  Sociology.  13th Edition.  MGHE.  New York.   ISBN: 0078026660. 
  8. Slide Binus Maya Pertemuan ke-31 diunduh 25-05-2015 Globalization, Technology, Mass Media, and Social Change http://binusmaya.binus.ac.id/AccessApp.aspx?AppId=ankN224zkCGlL6Prt9ts4Qkw%2bx4hUYN0ZtPgD4FezY4%3d
  9. Teknologi (diunduh tanggal 25-05-2015) disarikan dari http://id.wikipedia.org/wiki/Teknologi

Sabtu, 16 Mei 2015

Human Social Problems: Deviance, Crime, Social Control, and Global Inequality

1. Deviance
Perilaku yang melanggar standar tingkah laku atau harapan sebuah kelompok atau masyarakat.
- Melibatkan pelanggaran norma kelompok yang mungkin atau tidak mungkin diformalisasikan kedalam hukum.

Gambar 1. "Remaja" mendengar istilah tersebut langsung bermunculan konotasi buruk dalam masyarakat. Remaja yang dalam masa pencarian jati diri sering melakukan penyimpangan sosial.

Stigma : Label yang masyarakat gunakan untuk merendahkan anggota kelompok sosial tertentu.

Deviance dan Teknologi : Inovasi teknologi dapat mendefinisi ulang interaksi sosial dan standard perilaku yang berhubungan dengan mereka.

2. Crime
Pelanggaran hukum pidana dimana beberapa otoritas pemerintah memberlakukan hukuman formal.
Index kejahatan : pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, serangan, pembobolan, pencurian, pencurian kendaraan bermotor, pembakaran.
Gambar 2. Begal Motor yang meresahkan warga, kejahatan ini biasanya dilakukan pada malam hari saat suasana sepi. Modus seperti ini sudah sejak lama ada hanya kasus nya kembali mencuat kepermukaan saat pelaku nya melakukan tindakan sadis pada korban. Selain itu begal motor ini terjadi merata diseluruh daerah di Indonesia.

2.1 Types of Crime
Sosiolog mengklasifikan kejahatan dalam hal bagaimana mereka berkomitmen dan bagaimana masyarakat memandang pelanggaran.
1. Victimless Crime : Pertukaran yang secara sukarela dilakukan oleh orang dewasa yang secara luas diinginkan tetapi illegal, berkaitan dengan barang dan jasa.
2. Professional Crime : Orang yang mengejar kejahatan sebagai pekerjaan sehari-hari
3. Organized Crime : Kelompok yang mengatur hubungan antara berbagai perusahaan kriminal yang terlibat dalam aktivitas illegal.
4. White Collar Crime : Tindakan illegal yang dilakukan dalam rangka aktivitas bisnis. White Collar Crime ada 2, yaitu :
   a. Computer Crime : Penggunaan teknologi canggih untuk melakukan penggelapan atau penipuan eletronik.
   b. Corporate Crime : Setiap tindakan oleh sebuah korporasi yang dihukum oleh pemerintah.
5. Hate Crime : Pelaku termotivasi untuk memilih korban berdasarkan ras, etnis, agama, atau beberapa karakteristik pribadi, dan kebencian mendorong pelaku untuk melakukan kejahatan.
6. Transnational Crime : kejahatan yang terjadi di beberapa perbatasan nasional.

Tambahan pembahasan untuk diskusi:
7. Extraordinary Crime: kejahatan tingkat tinggi, kejahatan yg dimaksud adalah kejahatan yg umumnya dilakukan dgn siasat yg sangat rapi dan terencana hingga akan sangat susah membongkar kasusnya. 
Yang ingin saya bahas dalam kasus Narkoba di Indonesia yang menewaskan banyak korban sehingga ini disebut kejahatan luarbiasa. Berdasarkan hal tersebut pelaku harus dihukum mati.
Hukuman mati untuk Extraordinary Crime, setuju atau tidak?
Gambar 3. Eksekusi Mati tersangka kasus Narkoba oleh BNN di Indonesia, 2015

Saya selaku warga Indonesia dengan tegas menolak Narkoba dengan segala zat berbahaya yang terkandung di dalamnya. Namun, dalam agama katolik mengajarkan Pro-Life, hanya Tuhan yang berhak mengambil nyawa seseorang kenyataannya memang seluruh manusia memiliki HAM terutama Hak untuk HIDUP. Memang hukuman mati memang bukanlah solusi yang pas bahkan mungkin tetap saja tidak menimbulkan efek jera.
Tapi jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, ada berapa ribu jiwa yang tewas mengenaskan hanya karna narkoba yang mereka bawa ke Indonesia. Bahkan ada berapa tangisan dan jeritan keluarga yang ditinggalkan korban karna narkoba.
Saya sebagai generasi berikutnya hanya bisa mencegah, upaya-upaya yang dilakukan sederhana. Dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat dengan menjauhi narkoba tersebut. Biasanya mereka yang menggunakan narkoba hanya iseng dan kemudian ketagihan ada juga karna masalah tertentu.Kembali lagi kunci dari semuanya adalah mind-setting seseorang, jika sudah terkena narkoba haruslah dibawa ke pusat rehabilitasi, jika belum bisa dengan pemberitahuan bahaya narkoba. Walaupun dirasa sulit menuntaskan sampai akar masalah narkoba namun paling tidak bisa dikurangi.

3. Social Control 
Teknik dan strategi yang digunakan untuk mencegah perilaku manusia yang menyimpang dalam masyarakat. Kontrol sosial dapat dilakukan oleh orangtua, teman sebaya/bermain, sekolah, perusahaan, dan pemerintah.
Gambar 4. Salah satu contoh siswa-siswi yang tidak menaati peraturan akan dihukum untuk membersihkan WC/ Toilet sekolah. Hal ini diharapkan agar mereka jera dan tidak melanggar aturan.
Sanctions : penghargaan dan hukuman untuk perilaku yang menyangkut norma sosial.
- Fungsionalis : orang-orang harus menghormati norma sosial jika kelompok atau masyarakat manapun adalah untuk bertahan hidup.
- Conflict theorists : Suksesnya fungsi pada masyarakat secara konsisten bermanfaat bagi kelemahan kelompok lain.
Conformity : Pergi bersama teman sebaya yang tidak memiliki hak khusus untuk mengarahkan perilaku.
Obedience : Kepatuhan dengan otoritas yang lebih tinggi dalm sebuah stuktur hierarki.
The Mailgram Experiment : eksperimenter menginstruktur orang untuk mengatur meningkatkan kejutan listrik yang menyakitkan pada subjek.

3.1 Law & Control Theory
Law : lembaga kontrol sosial. Tatanan hukum mencerminkan nilai-nilai mereka pada posisi untuk melaksanakn kewenangan.
Control Theory : Hubungan kita pada anggota masyarakat memimpin kita untuk secara sistematis menyesuaikan diri dengan norma masyarakat.

3.2 Durkheim's Legacy
- Punishment/hukuman yang dibangun dalam sebuah budaya membantu mendefinisikan perilaku yang diterima dan berkontribusi pada stabilitas
- Anomie : perasaan kehilangan arah dalam masyarakat ketika kontrol sosial perilaku individu menjadi tidak efektif.

4. Global Inequality

4.1 The Legacy of Colonialism
Colonialism : Kekuatan negara asing dalam mempertahankan dominasi politik, sosial, ekonomi, dan budaya untuk beberapa waktu.
Neocolonialism : ketergantungan lanjutan pada negara-negara yang lebih maju untuk manajerial dan keahlian teknis oleh mantan koloni.
Globalization : Integrasi di seluruh dunia terhadap kebijakan pemerintah, budaya, gerakan sosial, dan pasar keuangan melalui perdagangan dan pertukaran ide.
Gambar 5. Gedung perkantoran sudirman, sebagai salah satu pusat perkantoran multinational company di wilayah DKI Jakarta. Gedung bertingkat pencakar langit ditambah kepadatan lalu-lintas setiap harinya menghiasi wilayah ini.
4.2 Multinational corporations
Multinational corporations : organisasi komersil yang berkantor pusat di suatu negara, tetapi melakukan bisnis di seluruh dunia. Menurut pandangan fungsionalis, perusahaan/korporasi multinasional dapat membantu mengembangkan suatu negara.

4.3 Modernization
Modernization : Proses dimana negara peripheral bergerak dari institusi traditional ke beberapa karakteristik masyarakat yang lebih maju.
Modernization Theory : Fungsionalis memandang bahwa modernisasi dan perkembangan akan secara bertahap meningkatkan kehidupan orang-orang dalam mengembangkan negara.

4.4 Social Mobility
Pola mobilitas intergenerational pada negara industri :
Kesamaan dalam cara posisi orangtua dalam system stratifikasi ditularkan kepada anak-anaknya.
Kesempatan mobilitas dipengaruhi oleh faktor structural.
Imigrasi signifikan faktor dalam membentuk level masyarakat pada mobilitas intergenerasi.

Refrensi:
  1. Kottak, Conrad Phillip . (2013).  Cultural Anthropology: Appreciating Cultural Diversity.  15th Edition.  MGHE.  .   ISBN: 0078035007.
  2. Schaefer, Richard.  (2012).  Sociology.  13th Edition.  MGHE.  New York.   ISBN: 0078026660. 
  3. Slide Binus Maya Pertemuan ke-28 diunduh 19-05-2015 Human Social Problems: Deviance, Crime, Social Control, and Global Inequality http://binusmaya.binus.ac.id/AccessApp.aspx?AppId=ankN224zkCGlL6Prt9ts4Qkw%2bx4hUYN0ZtPgD4FezY4%3d

Jumat, 15 Mei 2015

Family Therapy & Field Trip Sub-Urban

1. Family Therapy 
Gambar 1. FAMILY menurut saya sebagai singkatan dari "Father And Mother I Love You". Keluarga berperan penting bagi kehidupan saya, keluarga sebagai "rumah" dimana ketika kita pergi kemanapun kita akan kembali ke rumah yang nyaman tersebut.
1.1 Keragaman Jenis Keluarga

Pengertian keluarga menurut Coleman dan Cressey:
Keluarga adalah sekelompok orang yang terhubung dalam pernikahan, keturunan atau adopsi yang tinggal bersama dalam ruah tangga biasa.

Salah satu penyebab banyaknya keragaman jenis keluarga di dunia adalah faktor perbedaan budaya.
- Ada masyarakat yang mengizinkan suami untuk memiliki dua istri, begitu pula sebaliknya,
- Ada beberapa kebudayaan yang mengizinkan melakukan hubungan seksual sebelum nikah, sementara kebudayaan lain mengharuskan menikah dahulu sebelum berhubungan seksual.
- Ada kebudayaan yang menjodohkan anak-anak mereka bahkan sebelum anak tersebut lahir.

Sosiolog mencatat bahwa sebagian besar sistem keluarga dapat dibagi menjadi dua jenis:
1. Extended family yang berarti keluarga besar.
2. Nuclear family yang berarti keluarga inti

Keluarga saya sendiri merupakan keluarga dengan tipe nuclear family, yang terdiri dari Papa, Mama, 1 Kakak perempuan dan 1 Adik perempuan. Keluarga saya terbuka satu sama lain dengan pola komunikasi yang baik, walaupun terdapat kekurangan namun itu tertutup dengan kasih sayang kami terhadap anggota keluarga. Keluarga saya sederhana namun kami berkecukupan dengan selalu mensyukuri apapun yang dimiliki. 

1.2 Penilaian Keluarga ( Family Assessment)

Ecomap
- Dikembangkan oleh Hartman pada tahun 1975 sebagai sarana mnggambarkan sistem ekologi yang mencakup keluarga atau individu.
- Ecomap adalah representasi grafis yang menunjukkan semua sistem yang berperan dalam kehidupan individu.

Genogram
- Diperkenalkan oleh Bowen.
- Genogram adalah gambaran untuk menginvestigasi asal-usul klien atau keluarga klien yang bermasalah dengan membuat diagram keluarga setidaknya tiga generasi kebelakang.
Gambar 2. Contoh family Genogram yang dibuat untuk mengetahui history family. Mulai dari yang terdapat gangguan mental atau bercerai.
1.3 Terapi keluarga

1.3.1 Komunikasi Verbal
Menurut Satir:
Komunikasi efektif adalah kemampuan untuk dapat menyatakan permasalahan, mengklarifkasinyam dan meminta serta umpan balik.

Menurut Perez terdapat lima cara komunikasi, yaitu:
1. Consonace (harmonis): mendengar dan mengerti maksud pesan.
2. Condemnation (suka mengutuk): selalu mengkritik, menghakimi, menyalahkan, ngomel secara konsisten.
3. Submission (pasrah): merasa sangat bersalah sehingga suka mengaah, tetapi menyimpan perasaan yang bisa meledak.
4. Intellectualzation (menggunakan logika): menggunakan logika dan rasional, engesampingkan perasaan, terkesan dingin dan tidak penyayang.
5. Indifference (tidak peduli): acuh tak acuh, cuek, tidak perhatian dan merasa asing, komunikasinya kurang.

1.3.2 Komunikasi Non Verbal
Menurut Satir:
Komunikasi non verbal temasuk mimik wajah, nada suara dan posisi tubuh yang memberikan informasi tentang pikiran dan perasaan seseorang.
Kelemahannya: komunikasi tidak akan efktif apabila isi pesan tidak sejalan dengan bahasa tubuh yang ditampilkan (kontradiktif)
Gambar 3. Memudarnya kualitas kebersamaan keluarga, komunikasi antar anggota keluarga tergantikan oleh alat komunikasi. GADGET medekatkan yang jauh, namun menjauhkan yang dekat.

1.4  Konflik, Masalah dan Resolusi Keluarga
1. Kesulitan Pernikahan: membina komunikasi antar pasangan secara efektif.
2. Kesulitan Hubungan Orang Tua dan Anak: aplikasi  teori pembelajaran dan pelatihan orang tua yang efektif.
3. Masalah pribadi terhadap anggota keluarga individu yang lain: menyadari kesalahan (refleksi pribadi).
4. Tekanan dari lingkungan luar: penghasilan kurang, pengangguran, kemiskinan, kurangnya pendidikan kurangnya kesehatan, lingkungan yang kurang aman dan lain-lain.

Kesan Pesan Seminar:
"Air Mata" itu yang terpikir saat menggambarkan seminar ini. Saya menangis terbawa perasaan teringat akan orangtua dan keluarga. Kangen dan makin sayang itu yang saya dapat setelah mengikuti seminar ini. Sangat beruntung memiliki keluarga yang masih lengkap dan tentu saja bersyukur. Terkadang saat kesal atau marah saya membaca kelebihan yang papa dan mama saya berikan, membuat perasaan saya berubah kembali. Di seminar ini saya juga merasa jika saya menjadi orangtua nanti saya berniat untuk menjadi orangtua yang lebih baik. Selain itu, ada yang menarik yakni mengetahui kepribadian apa yang saya miliki. Ternyata tipe ke-3 yang dominan terdapat dalam diri saya. pemikir/thinker, untuk sekedar share sifat saya itu mandiri, terlibat melalui pikiran/ide, ikut peraturan bila masuk akal, mampu dan cakap, suka debat, ide, perfeksionis, namun kekurangan saya sulit menangani masalah sendiri. 

2. Field Trip Sub-Urban
Gambar 4. Kebersamaan kelas LB64&LC64 sewaktu di mall AEON, serpong. pusat belanja Jepang pertama di Indonesia yang siap dibuka untuk umum pada 30 Mei 2015
Menurut R. Bintarto, terdapat beberapa istilah yang berhubungan dengan pengertian kota, antara lain:
1)    City, adalah pusat kota
2)    Urban, adalah suatu daerah yang memiliki suasana kehidupan dan penghidupan modern atau dapat disebut perkotaan
3)    Suburban, adalah suatu area yang lokasinya dekat pusat kota atau inti kota dengan luas mencakup daerah penglaju (commuter)
4)    Suburban Fringe, adalah suatu daerah peralihan antara kota dan desa, lokasinya mengelilingi suburban
5)    Urban Fringe, adalah suatu daerah batas luar kota yang mempunyai sifat-sifat mirip dengan kota kecuali inti kota
6)    Rural Urban Fringe, adalah jalur daerah yang terletak antara daerah kota dengan desa, yang ditandai dengan penggunaan tanah campuran
7)    Town, adalah suatu kota kabupaten.

2.1 Ciri-ciri kota
Ciri-ciri kota menurut R. Bintarto terdapat dua macam, yaitu:
1.    Ciri-ciri sosial
a.    Kehidupan masyarakatnya sangat heterogen
b.    Bersifat individual dan materialistik
c.    Mata pencaharian non agraris
d.    Hubungan antarwarga masyarakat bersifat gesselschaft (patembayan) atau kekerabatannya mulai memudar
e.    Norma agama tidak begitu kuat
f.    Pandangan hidup lebih rasional.

2.2    Ciri-ciri fisik
a.    Terdapat sarana perekonomian seperti pasar dan supermarket
b.    Adanya tempat parkir yang memadai
c.    Adanya tempat rekreasi dan olah raga
d.    Terdapat alun-alun
e.    Adanya gedung-gedung pemerintahan.
Gambar 5. BSD CITY. Big City. Big Opportunity. Salah satu contoh kota sub-urban yang kita datangi, dengan fasilitas yang lengkap dan serba ada.
Disaat perjalanan, mata memandang ribuan hektar pemandangan dengan gedung-gedung. Ada beberapa yang masih belum rampung pengerjaannya ada juga yang sudah jadi. Semua itu membuat saya berfikir dan ingin tinggal ditempat itu dengan fasilitas yang lengkap dan kondisi yang masih asri beda seperti kota Jakarta yang sumpek dan berpolusi. Kota Sub-Urban jauh menawarkan kemewahan seperti kota Jakarta. "JABODETABEK" ya, itulah singkatan penggambaran kota-kota sub-urban disekitar Jakarta, yakni Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi.
Sekedar informasi, saya juga bertempat tinggal di kota Sub-Urban yakni bekasi. Bekasi mungkin kurang tertata baik seperti Tanggerang namun fasilitas nya juga hampir mirip.

Refrensi:
  1. Pacione, Michael (2001). The City: Critical Concepts in The Social Sciences. New York: Routledge.
  2. Powerpoint Kerja Sosial pada keluarga oleh C. Suharyanto pada 15-05-2015



Human Life Domains 2: Education, Health, and Environment

1. Education

Gambar 1. Anak-anak yang menyebrangi sungai dengan jembatan yang sudah tidak layak. Dengan fasilitas yang MINIMAL namun tidak pernah menyurutkan semangat mereka untuk bersekolah yang MAKSIMAL.

Gambar 2. Pendidikan di Indonesia dengan kurikulum yang terus berganti mengikuti perkembangan namun tidak diimbangi oleh peningkatan kualitas dan kapasitas guru. Terutama kurikulum 2013 yang menjadi perdebatan karena anggaran yang membengkak.

1.1. Sociologycal Perspective on Education

·         1.1.1 Functionalis View :
- Manifest function include : Menyebarkan ilmu pengetahuan, pemberian status.
- Latent function include : Mewariskan kebudayaan (mengekspos anak muda untuk memiliki kepercayaan, aturan, dan nilai dari kebudayaan mereka) , Memajukan masyarakat dan integrasi politik (identitas umum dan integrasi sosial membantu perkembangan dengan kontribusi pendidikan untuk stabilitas sosial dan kemufakatan), Menjaga control sosial (sekolah mengajarkan siswa mengenai ketepatan waktu, disiplin, penjadwalan, tanggung jawab, dan bagaimana negosiasi melalui sebuah organisasi birokratis), Melayani sebagai agen perubahan (sekolah menyediakan ruang pertemuan dimana orang-orang dapat berbagi mengenai perbedaan kepercayaan dan kebudayaan.

·        1.1.2. Conflict View :
- Pendidikan adalah sebuah alat dari kekuasan kaum menengah keatas.
- Sekolah mensosialisasikan murid kedalam nilai-nilai yang diperintah oleh kekuasaan.
- The hidden curriculum : Standar perilaku dinilai pantas oleh yayasan yang diajarkan secara halus dalam sekolah.
- Credentialism : Sebuah kenaikan dalam level terendah pada pendidikan dibutuhkan untuk memasuki lapangan.

1.2. School as Formal Organization

Bureaucratizations of Schools :
     Weber menandai lima karakteristik dari Bureaucracy : Pembagian kerja, Kekuasaan hirarki, Peraturan tertulis dan pengaturan, Impersonaliti, Pekerjaan berdasarkan kualifikasi teknis.

Teachers : Karyawan dan Pengajar
      Guru akademik yang ditugaskan menjadi lebih terpesialisasi (khusus). 20% dari para guru baru berhenti dalam waktu 3 tahun. Lebih sedikit siswa yang memilih guru sebagai karir karena dianggap berpenghasilan rendah.
Gambar 3. Guru yang bersedia mengajar dalam keadaan fasilitas sekolah yang memperihatinkan. Di beberapa daerah terpencil Indonesia masih membutuhkan perhatian khusus bagi pemerintah. Wajib belajar bukan hanya untuk anak kota, bukankah berantas kebodohan artinya perangi kemiskinan juga?


Home schooling :
     Terdapat lebih dari 1,6 juta anak-anak yang menjalani home schooling. Home schooling adalah alternatif yang sangat bagus untuk anak dengan ADHD dan LD. Tetapi home schooling tidak memiliki standar seragam yang universal dari tiap-tiap negara. Penelitian menunjukan bahwa skor anak-anak yang home schooling tinggi pada tes standar. Beberapa teori menyebutkan bahwa masalah utama home schooling adalah kurangnya keterlibatan sosial pada anak.
Gambar 4. Home Schooling kebanyakan berada di kota-kota besar selain itu hanya golongan menengah atas saja yang bisa bersekolah di tempat ini, hal ini disebabkan pengajaran yang lebih intensif serta private. Home Schooling di Jakarta biasanya banyak dimanfaatkan artis yang ingin bersekolah namun memiliki waktu yang terbatas.

2. Health
Gambar 5. "Orang miskin dilarang sakit" kira-kira begitulah ungkapan bagi kesehatan di Indonesia. Hal ini disebabkan biaya untuk berobat ke rumah sakit yang mahal, selain itu faskes di daerah terpencil yang masih minim.
2.1 Functionalist Approach
      "Sakit" pada manusia sebaiknya harus dikontrol agar tidak terlalu banyak orang yang dibebaskan dari tanggung jawab sosial yang mereka miliki. Sick Role adalah harapan masyarakat terhadap perilaku seseorang yang dipandang sebagai orang yang "sakit". Dalam hal ini, dokter berfungsi sebagai "gatekeeper" bagi Sickrole yang telah dijelaskan.


2.2 Conflict Approach
     Medicalization of Society : Berkembangnya peranan obat sebagai institusi utama dalam kontrol sosial ada 3, yaitu memperluas keahlian, melihat suatu masalah dengan perspektif medis, dan mempertahankan yuridiksi akan perawatan kesehatan. Inequalities in Health Care

2.3 HIV dan AIDS 
Gambar 6. Cuplikan film "Nada untuk Asa" yang bercerita tentang semangat positif dari wanita yang terjangkit virus HIV.
HIV dan AIDS adalah virus dan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga tubuh kekurangan daya tahan melawan berbagai macam penyakit

Penyebab dan Penularan HIV AIDS
virus HIV dapat menular melalui:
-Hubungan seks
-Jarum suntik bekas penderita HIV AIDS
-Air susu yang ibunya penderita HIV AIDS
-Transpalntasi organ dari penderita HIV AIDS
-Transfusi darah dari penderita HIV AIDS
-Berciuman dengan penderita HIV AIDS dengan gaya tertentu yang mengakibatkan saling melukai 
Gambar 7. Solusi pemerintah dalam peningkatan pelayanan kesehatan dengan meluncurkan program-program seperti BPJS dan Kartu Indonesia Sehat yang dicanangkan Presiden Jokowi


3. Environment
Gambar 8. Raja Ampat papua, surga Indonesia bagian dari potensi wisata. Lingkungan yang masih segar, hijau dan memanjakan setiap mata yang memandangnya. 

3.1 Conflict View of The Environmental
      Sumber daya negara-negara berkembang didistribusikan ke negara-negara industri inti. Modernisasi ekologi: Alignment menguntungkan praktik lingkungan dengan kepentingan ekonomis melalui adaptasi konstan dan restrukturisasi. Keadilan lingkungan: Tuntutan hukum bahwa ras minoritas secara tidak proporsional terkena bahaya lingkungan.

3.2 Environmental Problems
      Terdapat 3 dampak yang luas, yaitu : polusi udara, polusi air, dan pemanasan global.  
Gambar 9. "Jakarta Kota Paling Kotor di Dunia" sebutan ini dirasa sepadan dengan sampah yang berserakan serta polusi dari industri dan kendaraan bermotor di Ibukota. 
3.3 The Impact of Globalization
       Globalisasi dapat memberikan dampak baik dan buruk terhadapa lingkungan sekitar, diantaranya adalah industrialisasi yang mengakibatkan peningkatan polusi, perusahaan multinasional yang intensif untuk mempertimbangkan biaya sumber daya alam, dan pengungsi lingkungan adalah salah satu refleksi dari interaksi antara globalisasi dan lingkungan.    

Refrensi:
  1. Slide Binus Maya Pertemuan ke-25 diunduh 12-05-2015 Human Life Domains 2: Education, Health, and Environment http://binusmaya.binus.ac.id/AccessApp.aspx?AppId=ankN224zkCGlL6Prt9ts4Qkw%2bx4hUYN0ZtPgD4FezY4%3d

Human Life Domains 1: Economy, Work, Politics, and The Modern World System

1. Economy & Work
Gambar 1. Buruh sebagai salah satu penggerak roda ekonomi di Indonesia menyampaikan aspirasi dan tuntutan mereka setiap tahun pada Hari Buruh Internasional, Bunderan HI, 1 May 2015
Fair Trade: konsumen secara sukarela membayar harga yang lebih untuk makanan tertentu sehingga pekerja akan mendapat penghasilan lebih tinggi.
Cultural Relativism: melihat pekerja asing dan pemilik pabrik dari perspektif budaya mereka sendiri.

1.1 Sistem Ekonomi

Industrial society : Masyarakat yang bergantung pada mekanisasi/mesin untuk memproduksi barang dan jasa.
Capitalism : sistem ekonomi dimana kegiatan produksi sebagian besar dipegang oleh pihak swasta.
             - Dorongan utama pada kegiatan ekonomi adalaj akumulasi keuntungan.
             - Laissez-faire : Bisnis berkompetisi dengan campur-tangan pemerintah yang rendah/minimal.
             - Monopoly : Ada ketika sebuah perusahaan tunggal menguasai pasar.
Socialism : Peralatan/sarana produksi dan distribusi dimiliki secara bersama/kolektif bukan dimilki secara pribadi/swasta.
              - Communism : Sistem ekonomi di mana semua properti komunal dimiliki dan tidak ada  perbedaan sosial yang dibuat atas dasar kemampuan orang untuk memproduksi.

Informal economy merupakan kegiatan transfer atau pertukaran uang, barang dan jasa tetapi tidak dilaporkan kepada pemerintahan.

1.2 Work and  Alienation  

Pelopor sosiologis mengkhawatirkan dampak negatif dari industrialisme pada pekerja.
Durkheim berpendapat bahwa individu yang berpengalaman anomie atau kehilangan arah sebagai buruh menjadi lebih dibedakan.

Pandangan Marx:
-Marx percaya kemajuan industrialisasi berhubungan dengan gaji buruh masyarakat kapitalis.
Alienasi : kondisi kerenggangan atau pemisahan dari masyarakat sekitar.
-Marx mengatakan pekerja butuh kontrol yang lebih besar atas tempat kerja dan produk hasil kerja mereka.
-Pada tahun 1980, istilah burnout secara meningkat dipakai untuk mendeskripsikan stres yang dialami oleh para pekerja, termasuk para profesional.

Alienation: kondisi kerenggangan atau pemisahan dari masyarakat sekitarnya.

Faktor-faktor dalam kepuasan bekerja:
1. Upah yang lebih tinggi.
2. Minggu kerja yang lebih pendek.
3. Hubungan yang positif dengan rekan kerja.

Deindustrialization
Merupakan sistematis, penarikan yang luas dari investasi dalam aspek dasar produktivitas.
Dapat mengambil bentuk restrukturisasi perusahaan.
Downsizing merupakan penguarangan tenagara kerja perusahaan sebagai bagian dari deindustrialization. Di Indonesia, sistem ini dikenal dengan PHK atau Pemutusan Hubungan Kerja.
Gambar 2. Krisis Ekonomi menyebabkan PHK di Indonesia akibatnya jumlah pengangguran semakin meningkat.


Offshoring
Merupakan proses mentransfer jenis pekerjaan kepada kontraktor asing. Offshoring meningkatkan efisiensi operasi bisnis, sehingga sangat fungsional untuk masyarakat. Hal ini juga meningkatkan ketergantungan ekonomi dalam memproduksi barang dan jasa.

2. Politics & Goverment
Gambar 3. Isu Re-shuffle kabinet atau pergantian menteri ekonomi dalam pemerintahan Jokowi-JK
Hal ini disebabkan ekonomi Indonesia yang semakin merosot triwulan pertama tahun 2015
2.1. Power and Authority
Power merupakan kemampuan untuk melaksanakan kehendak seseorang atas orang lain.
Sumber kekuasaan dalam sistem politik meliputi:
Force:  pemaksaan secara aktual atau mengancam untuk menjatuhkan status politik seseorang.
Influence: pelaksanaan kekuasaan melalui proses persuasi.

2.2 Jenis-jenis Otoritas/Kewenangan
- Authority : kekuasaan terlembaga yang diakui oleh orang-orang yang berada dibawah kuasa orang tersebut.
- Traditional Authority : kekuasaan yang sah yang diberikan lewat kebiasaan dan menerima praktek
- Legal-Rational Authority : kekuasaan dibuat secara sah oleh hukum.
- Charismatic Authority : kekuasaan dibuat secara sah oleh daya tarik pribadi atau emosional yang istimewa pemimpin kepada pengikutnya.

2.3 Jenis-jenis pemerintahan:

1. Monarchy: bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh anggota tunggal dari keluarga kerajaan.
2. Oligarchy: bentuk pemerintahan di mana beberapa individu memerintah. Individu ini dapat dibedakan dengan royalti, kekayaan, ikatan keluarga, pendidikan, kontrol perusahaan, atau militer. Negara-negara tersebut sering dikontrol oleh keluarga terkemuka beberapa yang biasanya lulus pengaruh mereka dari satu generasi ke generasi berikutnya, tapi warisan bukanlah kondisi yang diperlukan untuk penerapan istilah ini.
3. Dictactorship: pemerintah di mana satu orang memiliki hampir total daya untuk membuat dan menegakkan hukum.
Gambar 4. Soeharto sebagai contoh ditaktor Indonesia pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun.

4. Totalitarianism: melibatkan kontrol pemerintah hampir lengkap dan pengawasan atas semua aspek dari masyarakat hidup sosial dan politik.
5. Democracy: pemerintahan oleh masyarakatnya. Demokrasi perwakilan merupakan keadaan ketika para anggota legislatif yang terpilih membuat undang-undang atau hukum. 
Gambar 5. PEMILU atau Pemilihan Umum yang dilaksanakan di Indonesia menunjukan pemerintahan yan demokratis, pemimpin dipilih langsung oleh rakyat dengan asas LUBER dan JURDIL.

2.4. Power Elite Models
Mill's Model
Power Elite: elit penguasa kecil pada kemiliteran, industri, dan kepala pemerintahan. Kekuasaan bertumpu pada beberapa orang, diluar dan didalam pemerintahan. Sebagian besar adalah pria, putih dan kelas atas.
Domhoff's Model
Menekankan pada peran yang dilakukan oleh elit korporasi komunitas dan pemimpin kebijakan formasi suatu organisasi seperti : Chambers of Commerce dan serikat kerja.
Pluralist Model
Kelompok saling bersaing dalam komunitas yang memiliki akses ke pemerintah, sehingga tidak ada kelompok yang mendominasi. Berbagai kelompok memainkan peran signifikan dalam mengambil keputusan.

2.5. War and Peace
Perang
- Pandangan global meneliti bagaimana dan mengapa sebuah negara menjadi terlibat dalam konflik militer.
- Pandangan Nation-State menekankan pada interaksi politik internal, sosioekonomi, dan budaya.
- Pandangan Mikro fokus pada dampak sosial perang pada individu dan kelompok.
Gambar 6. Keberagaman Indonesia seringkali menjadi konflik, kasus-kasus yang terjadi biasanya melibatkan perang antarsuku. Jika perbedaan itu konflik. Apakah persamaan itu unik? Bukankah bersama tak harus sama?

Perdamaian
Peace atau Kedamaian adalah tidak adanya perang dan usaha proaktif untuk mengembangkan hubungan kerja-sama antar negara-negara.

2.6 Terorisme
Terorisme adalah penggunaan atau ancaman kekerasan untuk melawan target/sasaran simbolik atau acak dalam mengejar tujuan politik.
Gambar 7. Teror Bom yang terjadi di Indonesia, terjadi di daerah-daerah tertentu dengan modus yang berbeda pula.

Refrensi:

  1.  Kottak, Conrad Philip. (2013). Cultural Anthropology: Appreciating Cultural Diversity. 15th Edition. New York: McGraw Hill.
  2. Slide Binus Maya Pertemuan ke-22 diunduh 05-05-2015 Human Life Domains 1: Economy, Work, Politics, and The Modern World System http://binusmaya.binus.ac.id/AccessApp.aspx?AppId=ankN224zkCGlL6Prt9ts4Qkw%2bx4hUYN0ZtPgD4FezY4%3d